Kasus Fitnah Ijazah Jokowi: Bohir Ketar-Ketir
Oleh: Pepih Nugraha
Ketika Rismon Hasiholan Sianipar memutuskan untuk "balik badan" di depan gerbang Sumber setelah menangisi tembok ratapan Solo, ia sebenarnya tidak hanya sedang menyelamatkan lehernya sendiri dari jerat tali hukuman mati nurani.
Tanpa sadar atau mungkin dengan sangat sadar, ia sedang menarik seutas benang merah yang terhubung ke sebuah kotak kayu tua yang selama ini terkunci rapat: Kotak Pandora.
Selama ini, kita sibuk menonton tarian para wayang. Ada Roy Suryo dengan analisis memorinya, Tifauzia Tyassuma dengan stetoskop narasinya, dan tentu saja Momon dengan mikroskop forensiknya.
Namun, tidak ada pertunjukan kolosal yang berjalan bertahun-tahun tanpa katering yang melimpah, panggung yang kokoh, dan tata lampu yang mahal. Ya, toh?
Secara logistik, mustahil para "pendekar ijazah" ini memiliki napas yang begitu panjang jika hanya mengandalkan tabungan pribadi atau donasi recehan dari netizen yang emosional, bahkan dari barisan pembenci Jokowi sekalipun.
Ada "vitamin" yang disuntikkan secara berkala ke dalam dompet perjuangan mereka. Pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang mereka suarakan, tapi siapa yang membayar tagihan listrik di balik layar studio konspirasi itu?
Bohir-bohir ini adalah sutradara bayangan. Mereka bisa jadi adalah barisan sakit hati yang kursinya digeser, pengusaha yang "keran" rezekinya mampet karena regulasi yang tak lagi bisa diajak kompromi, atau sisa-sisa ormas garis marah yang rindu akan panggung jalanan meneriakan amarah berbungkus agama.
Mereka semua adalah kolektor dendam yang sedang melakukan investasi jangka panjang untuk Pilpres 2029!