Kelangkaan BBM di Karangasem Berlanjut, Warga Berharap Jatah Pertashop Ditambah
AMLAPURA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Karangasem, Bali, masih berlanjut. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Kota Amlapura, tetapi juga dirasakan warga di Kecamatan Selat. Masyarakat terpaksa mencari BBM ke sejumlah tempat, bahkan harus mengantre tanpa kepastian mendapatkan bahan bakar.
Situasi tersebut terlihat pada Kamis sore (15/10/2026), ketika sejumlah warga sempat mengantre di salah satu Pertashop di Kecamatan Selat. Antrean bahkan mengular hingga beberapa meter. Namun, BBM jenis Pertamax yang biasanya dijual di tempat tersebut tak kunjung datang, sementara Pertashop tetap tutup.
Warga yang telah meluangkan waktu untuk mengantre pun harus pulang dengan tangan kosong.
“Ada info kalau BBM akan datang,” ujar Ketut Darma, salah seorang warga setempat yang ikut mengantre.
Namun, hingga sore hari, pasokan BBM yang diharapkan tidak kunjung tiba. Warga pun kecewa karena tidak mendapatkan kepastian kapan bahan bakar kembali tersedia.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah Pertashop lainnya. Antrean warga sudah terlihat sejak pagi, tetapi pada sore hari stok BBM dilaporkan habis. Akibatnya, masyarakat harus mencari alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan mereka.
BBM Eceran Ikut Langka, Harga Melambung
Kelangkaan BBM juga berdampak pada penjualan di warung-warung eceran, termasuk penjual yang dikenal masyarakat sebagai Pertamini. Pasokan yang sulit diperoleh membuat sebagian pedagang tidak lagi memiliki stok untuk dijual. Kalaupun masih tersedia, beberapa di antaranya menyimpan BBM untuk kebutuhan sendiri.
Di tengah terbatasnya pasokan, harga BBM eceran yang ditemukan masyarakat juga tergolong tinggi. Pertalite dilaporkan dijual sekitar Rp25.000 per botol berisi 1,5 liter. Sementara itu, Pertamax di sejumlah warung eceran disebut mencapai Rp30.000 per botol.
Harga tersebut merupakan informasi yang dihimpun dari kondisi di lapangan dan belum mewakili seluruh penjual BBM eceran di Karangasem.