Peluncuran Buku Haekal Al Haffah: Ketika Trias Politika Retak dan Masyarakat Sipil Terabaikan
Palembang, Aliansinews"
Diskusi publik dan peluncuran buku Monolog di Simpang Republik berlangsung di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Jumat (31/1/2026). Mengangkat tema “Kepemimpinan Politik, Civic Virtue, dan Tanggung Jawab Intelektual”, acara ini menghadirkan penulis buku M. Haekal Al Haffah serta sejumlah akademisi dan pengamat politik Sumatera Selatan.
Haekal menyoroti lemahnya tradisi intelektual sebagai salah satu sumber kemunduran demokrasi Indonesia.
“Tradisi intelektual kita masih lemah. Komunitas yang mendorong lahirnya gagasan kritis tidak hidup,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ketika fungsi trias politica tidak berjalan optimal, maka peran civil society menjadi penentu terakhir bagi tegaknya demokrasi.

“Kita butuh NGO, akademisi, dan kelas menengah yang kritis. Ketika trias politica melemah, kelompok kritis harus bersuara,” tegasnya.
Haekal juga mengkritik buruknya kualitas diskursus publik yang dinilainya lebih banyak terjebak pada isu-isu dangkal.
“Diskusi publik seharusnya menghasilkan pikiran berkualitas, bukan sekadar membuat masyarakat happy sesaat. Kita miskin imajinasi,” katanya.
Menurut Haekal, demokrasi hanya hidup jika kanal koalisi dan kanal oposisi berjalan seimbang. Namun kondisi di Sumatera Selatan menunjukkan lemahnya legislasi dan minimnya oposisi.
“Parlemen lemah, hampir tidak ada perda inisiatif. Banyak yang sibuk mengejar pokir dan efisiensi anggaran. Ini melemahkan institusi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung menguatnya oligarki politik dan ekonomi di tingkat nasional serta wacana pemilihan kepala daerah oleh DPR yang dinilainya sebagai langkah mundur bagi demokrasi.
Ketua Umum DPP Gencar, Charma Afrianto, turut mengapresiasi karya Haekal.
“Buku ini menawarkan perspektif kritis dan jernih tentang demokrasi dan kepemimpinan. Semoga lahir lebih banyak karya kritis lainnya,” katanya.
(Hanny)