Kasus 14 Pengunjung Positif Narkoba, DPN Rajawali Jangan Hanya Gertak Sambal, Usut Tuntas Dan Tampilkan Hasil Secara Terang Benderang
Bogor - Aliansinews id. Pengungkapan kasus penyalahgunaan narkotika di salah satu ruang karaoke Tempat Hiburan Malam (THM) Sekitar jalan budi karya Kota Pontianak, di mana Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar mengamankan 14 orang yang dinyatakan positif menggunakan narkoba serta menemukan barang bukti berupa pil ekstasi, kini menjadi sorotan luas.
Pasalnya, Polda Kalbar telah resmi mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kota Pontianak untuk menjatuhkan sanksi administratif terhadap kafe dan karaoke "WO" tersebut, menyusul terbuktinya adanya aktivitas penyalahgunaan narkotika di dalam salah satu ruangannya. Surat permohonan penjatuhan sanksi itu telah dikirimkan secara resmi kepada Wali Kota Pontianak.
Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin (02/06/26), telah mendesak Pemerintah Kota Pontianak untuk mengevaluasi izin operasional tempat usaha tersebut jika terbukti ada pelanggaran.
Sementara Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, menegaskan tidak akan memberi toleransi, dan Kapolresta Pontianak mengingatkan izin usaha tidak boleh dijadikan tameng kejahatan. Namun hingga kini, langkah konkret dan hasil penelusuran belum terlihat jelas.
Menyikapi perkembangan ini, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI) segera angkat bicara dan menyoroti keseriusan penanganan kasus ini.
Ketua Umum DPN RAJAWALI, melalui Sekretaris Jenderal, Krista Hadi Wijaya: Jangan Biarkan Kasus Ini Hilang Begitu Saja! "Usut Tuntas, Transparan, Dan Bertanggung Jawab"!
Krista , selaku Sekretaris Jenderal DPN RAJAWALI, menyampaikan pernyataan sikap tegas dan mendalam terkait penanganan kasus ini.
"Kami dari DPN RAJAWALI mencatat dengan cermat perkembangan kasus ini. Ada 14 orang positif narkoba, ditemukan barang bukti, sudah ada pernyataan tegas dari DPRD, Wali Kota, hingga kepolisian.
Namun yang menjadi kekconcern kami: apakah ini akan berhenti hanya pada pernyataan keras saja? Kami sering melihat pola serupa — di awal berisik, berita besar, pernyataan tegas, tapi lama-kelamaan hilang, senyap, nyaris tak terdengar lagi.