Trisula Wedha: Pengetahuan Suci Penghapus Kebatilan, Kunci Perubahan Zaman Menurut Maung ‑ Rajawali 

 
Sabtu, 20 Jun 2026  17:32

Bogor - Aliansinews id. Warisan pemikiran leluhur Nusantara kembali menjadi rujukan mendalam untuk membaca tanda zaman, khususnya di tengah gejolak sosial dan ketimpangan yang makin terasa. Salah satu petuah agung yang kini kembali dikaji adalah ajaran Trisula Wedha dalam nubuat Jangka Jayabaya," (20-06-2026).

Bukan sekadar gambaran senjata fisik, istilah ini ternyata menyimpan makna filosofis, spiritual, dan sosial yang sangat relevan untuk menyembuhkan apa yang disebut sebagai Zaman Kalabendu atau zaman kehancuran akibat korupsi dan kemunafikan.

Ketua Umum sekaligus Pendiri Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI),Hadysa Prana menguraikan makna mendalam ini dalam sebuah kajian pemikiran budaya dan kebangsaan.

Menurutnya, Trisula Wedha sesungguhnya adalah teknologi spiritual yang tersimpan di dalam hati sanubari setiap manusia, berbentuk tiga nilai utama: Benar, Lurus, dan Jujur.

“Trisula ini tidak tajam karena besi, melainkan tajam karena pengetahuan suci dan kesadaran luhur. Jika mayoritas masyarakat mampu mengaktifkan ketiga mata trisula ini dalam kehidupan seharihari, maka sistem yang korup dan pemimpin yang munafik akan runtuh dengan sendirinya.

Mereka tak akan punya ruang lagi untuk hidup di tengah masyarakat yang cerdas dan berintegritas,” ungkapnya. 

Secara etimologi, kata Weda berasal dari akar bahasa Sanskerta vid yang berarti mengetahui, pengetahuan suci, atau kebijaksanaan tertinggi. Diserap ke dalam sastra Jawa Kuno, istilah ini melahirkan makna “Tombak Berujung Tiga dari Pengetahuan Suci”.

Di mata pujangga Jawa kuno, Weda bukan sekadar kitab suci agama, melainkan ilmu kosmologi, pedoman hidup, dan rahasia alam semesta—ilmu kasunyatan.

Dalam tradisi kepemimpinan Jawa yang dikenal dengan ajaran Asta Brata, penguasaan ilmu Weda menjadi syarat mutlak bagi seorang pemimpin.

Berita Terkait